Berita Terkait

Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik
Provinsi Sumatera Barat
(BPS-Statistics Sumatera Barat Province)
Jl. Khatib Sulaiman No.48 Padang-Sumatera Barat 25135
Telp (0751) 442158-442160
Mailbox: [email protected] atau [email protected]
Tentang Kami
Sumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital
Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik
Produk - Berita dan Siaran Pers
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2026 Sumatera Barat Sebesar 5,02 Persen
5 Mei 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya
Padang, (5/5) - Ekonomi Provinsi Sumatera Barat triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,02 persen secara y-on-y. Dari segi lapangan usaha, lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (17,77 persen). Lapangan usaha yang juga memiliki pertumbuhan yang tinggi secara y-on-y adalah Jasa Lainnya (9,10 persen) serta lapangan usaha Jasa Keuangan (7,94 persen). Dari segi komponen pengeluaran, komponen Impor Barang dan Jasa (yang merupakan komponen pengurang PDRB) memiliki pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 21,04 persen. Komponen yang juga memiliki pertumbuhan tertinggi lainnya yaitu komponen Ekspor Barang dan Jasa (20,14 persen).
Selaras dengan pertumbuhan secara y-on-y yang menunjukkan angka positif, ekonomi Provinsi Sumatera Barat pada triwulan I-2026 dibandingkan dengan triwulan IV-2025 (q-to-q) juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 3,15 persen. Jika dibandingkan dengan provinsi lain, pada triwulan I-2026 ini Provinsi Sumatera menyumbang 6,83 persen perekonomian di Pulau Sumatera dan 1,51 persen perekonomian nasional.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Sumatera Barat Februari 2026 sebesar 5,51 Persen, Turun 0,18 Persen Poin dibanding Februari 2025
Penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) mengalami tren yang cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk di Sumatera Barat. Penduduk usia kerja pada Februari 2026 sebanyak 4,52 juta orang, naik sebanyak 67,65 ribu orang dibanding Februari 2025. Sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, yaitu sebanyak 3,24 juta orang (71,76 persen), sedangkan sisanya termasuk bukan angkatan kerja.
Komposisi angkatan kerja pada Februari 2026 terdiri dari 3,06 juta orang penduduk yang bekerja dan 178,68 ribu orang pengangguran. Penduduk bekerja naik sebanyak 85,75 ribu orang dan pengangguran turun sebanyak 1,05 ribu orang. Dari 3,06 juta penduduk bekerja, tiga lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja paling banyak di Sumatera Barat yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yaitu sebesar 32,95 persen; Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 17,06 persen; dan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,92 persen. Melalui penerbitan Peraturan Badan Pusat Statistik (BPS) Nomor 7 Tahun 2025 tentang KBLI 2025, BPS melakukan penyesuaian dengan mengganti KBLI 2020 secara bertahap menjadi KBLI 2025 pada seluruh kegiatan statistik, termasuk pelaksanaan Sakernas Februari 2026. Sementara itu, pada kegiatan Sakernas Februari 2025 masih menggunakan KBLI 2020.
Menurut status pekerjaannya, penduduk bekerja paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 31,30 persen, sementara yang paling sedikit berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar, yaitu sebesar 4,66 persen. Pada Februari 2026, penduduk bekerja pada kegiatan informal masih mendominasi, yaitu sebanyak 1,96 juta orang (64,04 persen), sedangkan yang bekerja pada kegiatan formal sebanyak 1,10 juta orang (35,96 persen).
TPT hasil Sakernas Februari 2026 tercatat sebesar 5,51 persen. Hal ini berarti dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar 5‒6 orang penganggur. TPT mengalami penurunan sebesar 0,18 persen poin dibandingkan dengan Februari 2025, dan secara absolut jumlah pengangguran berkurang sebanyak 1,05 ribu orang. Menurut jenis kelaminnya, TPT laki-laki sebesar 5,44 persen, lebih rendah dibanding TPT perempuan yang sebesar 5,60 persen. Apabila dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan sebesar 6,83 persen lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah perdesaan yang sebesar 3,83 persen.
Pada Februari 2026, distribusi pengangguran menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Atas yang mencapai 31,99 persen. Sementara itu, distribusi pengangguran terendah adalah tamatan Diploma I/II/III yaitu sebesar 6,79 persen pada Februari 2026.
SUPAS 2025: Populasi Provinsi Sumatera Barat Capai 5,92 Juta
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat mencapai 5,92 juta jiwa, meningkat dibandingkan hasil SP2020. Laju pertumbuhan penduduk dalam lima tahun terakhir tercatat sebesar 1,41 persen per tahun. Struktur penduduk didominasi oleh usia produktif (15–64 tahun) sebesar 67,75 persen, sementara rasio ketergantungan berada pada angka 47,59, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 48 penduduk usia nonproduktif.
Dari sisi komposisi demografi, penduduk Sumatera Barat didominasi oleh generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial yang mencakup hampir separuh populasi. Rasio jenis kelamin tercatat sebesar 102, yang menunjukkan jumlah laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. Hasil SUPAS 2025 juga menunjukkan Sumatera Barat mulai memasuki fase penuaan penduduk (ageing population) dengan proporsi penduduk lanjut usia mencapai 12,01 persen.
Indikator fertilitas menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) sebesar 2,39, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan juga terlihat pada Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR) menjadi 14,58 per 1.000 kelahiran hidup, mencerminkan perbaikan kondisi kesehatan masyarakat.
Dalam aspek mortalitas secara umum, angka kematian kasar tercatat sebesar 6,65 per 1.000 penduduk. Indikator kematian anak dan balita juga menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, penggunaan kontrasepsi tercatat sebesar 52,82 persen, yang turut berkontribusi terhadap penurunan tingkat fertilitas.
Dari sisi mobilitas, sebagian besar wilayah di Sumatera Barat menjadi tujuan migrasi risen dengan angka migrasi neto yang cenderung positif. Sedangkan untuk migrasi seumur hidup lebih banyak penduduk yang keluar dibanding masuk. Selain itu, mayoritas penduduk mampu berbahasa Indonesia (97,60 persen) dan tetap menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari (93,67 persen). Prevalensi penyandang disabilitas tercatat sebesar 2,43 persen, memberikan gambaran penting bagi perumusan kebijakan inklusif di Sumatera Barat.
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2025 sebesar 0,364, turun 0,017 poin dibandingkan 2024
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Provinsi Sumatera Barat tahun 2025 tercatat sebesar 0,364. Capaian ini menempatkan Sumatera Barat pada peringkat ke-12 secara nasional dan berada lebih baik dibandingkan IKG nasional yang sebesar 0,402. Angka ini menunjukkan bahwa ketimpangan antara laki-laki dan perempuan masih terjadi, namun secara umum mengalami perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbaikan ini mencerminkan meningkatnya kesetaraan gender pada tiga dimensi utama, yaitu kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja.
Pada dimensi kesehatan reproduksi, terjadi penurunan proporsi perempuan yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan (MTF) menjadi 0,063 serta penurunan proporsi perempuan yang melahirkan pertama kali pada usia di bawah 20 tahun (MHPK20) menjadi 0,158. Pada dimensi pemberdayaan, persentase perempuan yang menjadi anggota legislatif mencapai 15,38 persen, sementara persentase perempuan usia 25 tahun ke atas dengan pendidikan minimal SMA mencapai 50,12 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki sebesar 46,66 persen. Sementara itu, pada dimensi pasar tenaga kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki tercatat sebesar 83,21 persen dan perempuan sebesar 59,40 persen, yang menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam partisipasi kerja.
Secara tren, IKG Sumatera Barat selama periode 2019 hingga 2025 menunjukkan penurunan yang konsisten, dari 0,527 pada tahun 2019 menjadi 0,364 pada tahun 2025. Penurunan ini menandakan bahwa kesenjangan gender semakin menyempit, didukung oleh perbaikan pada indikator kesehatan reproduksi, peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan politik, serta meningkatnya keterlibatan perempuan dalam pasar kerja, meskipun perbedaan antara laki-laki dan perempuan masih terlihat.
Pada tingkat kabupaten/kota, capaian IKG tahun 2025 menunjukkan adanya disparitas antar wilayah. Sebanyak 10 dari 19 kabupaten/kota memiliki nilai IKG di bawah rata-rata provinsi. IKG tertinggi tercatat di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebesar 0,841, sedangkan IKG terendah berada di Kota Pariaman sebesar 0,100. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender di Sumatera Barat belum merata di seluruh wilayah.
Dilihat dari perubahannya, sebanyak 63,16 persen kabupaten/kota mengalami penurunan IKG yang menunjukkan peningkatan kesetaraan gender. Penurunan terdalam terjadi di Kabupaten Agam yang turun sebesar 0,209 poin dari 0,355 menjadi 0,146. Sebaliknya, peningkatan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman yang naik sebesar 0,029 poin dari 0,464 menjadi 0,493.
Secara keseluruhan, kondisi kesetaraan gender di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2025 menunjukkan perkembangan yang positif. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan gender pada beberapa indikator serta disparitas antar wilayah yang perlu menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan ke depan guna mendorong kesetaraan yang lebih merata.
Narahubung Media
Anggie Suratman
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat